SLAWI, smpantura – Peristiwa banjir bandang untuk kedua kalinya yang melanda kawasan wisata Guci pada 24 Januari 2026 bukan sekadar bencana alam biasa. Kejadian ini menjadi titik balik serius bagi wajah pariwisata Guci dan keberlangsungan ekonomi masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup pada sektor wisata.
Banjir bandang menyebabkan kerusakan signifikan pada fasilitas utama wisata, akses jalan, jembatan penghubung, serta area pemandian air panas yang menjadi ikon Guci. Akibatnya, aktivitas wisata terhenti sementara, tingkat kunjungan wisatawan turun drastis, kepercayaan pasar wisata terhadap keamanan kawasan mengalami guncangan.
Bagi destinasi wisata, persepsi publik adalah segalanya. Peristiwa banjir bandang yang terjadi untuk kedua kalinya memperkuat kesan bahwa Guci berada dalam kondisi rawan dan belum sepenuhnya aman, meskipun potensi alamnya tetap luar biasa.
Dampak paling terasa di rasakan oleh, pelaku UMKM (warung, pedagang kaki lima, penyewa ban, pemandu wisata), pengelola homestay, vila, dan hotel, pekerja informal sektor wisata.
Dalam hitungan hari pascabanjir, banyak pelaku usaha kehilangan pendapatan harian yang selama ini menjadi sumber nafkah utama keluarga. Efek domino ini tidak hanya bersifat sementara, tetapi berpotensi memicu penurunan ekonomi kawasan secara struktural jika tidak segera ditangani secara serius dan berkelanjutan.
Peristiwa ini menandai bahwa Guci tidak bisa kembali ke pola lama. Penanganan parsial dan respons darurat semata tidak lagi cukup. Guci membutuhkan, penataan ulang kawasan wisata berbasis mitigasi bencana, redefinisi konsep pariwisata yang lebih aman, adaptif, dan berkelanjutan. Serta kolaborasi nyata antara pemerintah, pelaku usaha, masyarakat lokal, dan investor.


