Taj Yasin juga menyampaikan secara terbuka bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah membutuhkan peran aktif mahasiswa. Khususnya yang berada di organisasi strategis seperti DEMA, untuk ikut menyumbangkan gagasan dalam menyelesaikan persoalan sosial kemasyarakatan.
“Tentu kami membutuhkan adik-adik yang saat ini di percaya memimpin organisasi kemahasiswaan,” katanya.
Lebih lanjut, Gus Yasin menegaskan bahwa struktur eksekutif mahasiswa sejatinya merupakan miniatur pemerintahan. Di dalamnya, nilai kepemimpinan, pengambilan keputusan, hingga manajemen organisasi di tempa sebagai bekal menjadi pemimpin di tingkat kabupaten, kota, hingga nasional.
Ia menyamakan dinamika DEMA dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di pemerintahan, yang di tuntut bekerja berdasarkan kesepakatan bersama, bukan kepentingan pribadi atau sektoral.
“Di pemerintahan itu tidak boleh punya keinginan masing-masing. Harus ada satu kesatuan yang di sebut Satu Asa Satu Cita. Itu kunci keberhasilan organisasi dalam menyongsong transformasi,” pungkasnya. (**)


