Untuk penanganan jangka menengah, Taj Yasin menyoroti kondisi tanggul Sungai Bremi yang belum permanen dan menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Ia menginstruksikan jajarannya untuk segera melakukan perhitungan teknis agar perbaikan dapat di lakukan lebih cepat.
“Ada salah satu tanggul yang belum permanen dan itu kewenangan kami. Hari ini langsung saya minta di hitung supaya penanganannya bisa lebih cepat,” tegasnya.
Sementara itu, penanganan jangka panjang akan di fokuskan pada Sungai Bremi. Taj Yasin menyampaikan, proyek penanganan sungai tersebut telah di anggarkan oleh pemerintah pusat senilai sekitar Rp50 miliar dan d irencanakan mulai di kerjakan pada 2026. Sehingga di harapkan banjir di wilayah Pekalongan Barat dan sekitarnya tidak terulang.
“Sungai Bremi itu sudah di anggarkan dari pusat, informasi BBWS ada Rp50 miliar, tetapi memang ini belum dikerjakan,” ujarnya.
Di lokasi pengungsian, Sujatmiko (60), salah satu warga terdampak, mengatakan, banjir di picu jebolnya tanggul Sungai Bremi yang di perparah hujan. Akibatnya, air menggenang dan belum surut hingga saat ini.
“Penyebab banjir dari tanggul Sungai Bremi jebol. Air keluar, merambah, di tambahi hujan. Air mandek sampai sekarang. Rumah saya tenggelam, cuma kelihatan atapnya genteng tok,” ujarnya.
Sujatmiko mengaku tidak sempat menyelamatkan barang-barang miliknya karena air datang dengan cepat. Seluruh perabotan rumah tangga masih terendam di dalam rumah.
“Ada kasur, kasur busa, sepeda motor, kompor, masih di rumah semua. Ya pasrah total,” katanya.
Meski demikian, ia menyebut kondisi konsumsi dan obat-obatan di pengungsian relatif aman.


