Ia membeberkan angka perceraian saat ini sudah setara dengan 30 % jumlah pernikahan yang di catat pada tahun 2024. Angka berasal dari Badan Pusat Statistik tersebut sangat memprihatinkan.
“Jumlah itu sangat tinggi, karena mencapai 30 % dari jumlah pernikahan yang tercatat pada tahun 2024. Sedangkan sisanya yang 70%, yang tidak cerai itu, juga belum tentu rumah tangga yang bahagia,” ujarnya.
Menurutnya, kelas calon pengantin yang di gagas Gus Yasin sangat besar manfaatnya. Dia berharap, terjalin kolaborasi dengan Pemprov Jateng dalam mewujudkan harmonisasi keluarga di Jawa Tengah.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jawa Tengah, Ema Rachmawati mengatakan, Pemprov sudah memiliki sejumlah program dalam menunjang ketahanan keluarga di Jawa Tengah. Antara lain, generasi reproduksi, dan ketahanan keluarga.
Rencana kelas calon pengantin, kata Ema, juga sudah mengemuka. Meskipun nantinya akan di laksanakan secara daring. Nantinya, dinas akan membuka kelas bagi pasangan yang hendak menikah, sebagai ruang belajar dan konsultasi agar paham bagaimana berkeluarga.
“Kami sudah membahas dengan BP4 dan berencana untuk membuka kelas calon pengantin ini meskipun nantinya di lakukan melalui ruang zoom. Karena berkeluarga bukan hanya senang-senang saja, tetapi tantangannya sangat berat,” jelasnya.
Adapun materi kelas calon pengantin, kata Ema, dapat menggunakan modul yang di terbitkan oleh Kementrian Agama. Kelas juga akan menghadirkan konsultan dan fasilitator yang tersertifikasi Mahkamah Agung, antara lain dari BP4 Jateng. (**)


