Dalam bayangan Slentheng, Perpusda seharusnya menjadi ruang yang hidup: tempat diskusi, bedah buku, pemutaran film edukatif, ruang belajar bersama, ruang anak yang ramah, hingga layanan digital yang memudahkan akses. Perpustakaan yang nyaman, menarik, dan penuh aktivitas akan mengundang masyarakat datang dengan sendirinya. Sebaliknya, perpustakaan yang statis akan terus kalah oleh ruang-ruang hiburan.
Buku adalah Pusaka
Slentheng memandang kembali sepiring gorengan di depannya. Ia terdiam sejenak, lalu tersenyum pahit. Ia teringat satu kemungkinan yang ironis: jangan-jangan suatu hari nanti, kertas-kertas berisi ilmu dan berita itu hanya akan bernasib sama dengan koran bekas—berubah fungsi menjadi pembungkus tahu aci dan randa kemul, lalu berakhir di tempat sampah.
Bagi Slentheng, buku adalah pusaka.
Perpustakaan adalah rumah pusaka itu.
Dan Iqro adalah panggilan peradaban yang terus menggema.
Sore itu, Slentheng menghabiskan sisa tahu aci dan randa kemul-nya. Ia meneguk habis moci di cangkirnya. Dengan perlahan, ia melipat koran di tangannya, membayar kepada penjual, lalu berdiri.
Dari sudut alun-alun, Slentheng melangkah pergi sambil membawa satu harapan: semoga Perpustakaan Daerah tidak terus di biarkan suwung, dan semoga pusaka ilmu pengetahuan kembali di muliakan oleh mereka yang memegang kebijakan. (**)


