Slentheng, Jamus Kalimasada, dan Iqro: Catatan tentang Sepinya Perpustakaan Daerah

Oleh: Ki Sengkek Suharno

Bagi Slentheng, buku-buku di Perpusda sejatinya adalah Jamus Kalimasada zaman ini. Setiap rak buku adalah pusaka. Setiap halaman adalah kekuatan. Namun pusaka, jika di biarkan berdebu, tidak di rawat, dan tidak di hidupkan, perlahan akan kehilangan daya magisnya. Bukan karena pusakanya tidak sakti, tetapi karena penjaganya lalai merawat dan memuliakannya.

Slentheng kemudian menyantap sepotong randa kemul. Di sela kunyahannya, pikirannya melayang pada peristiwa agung dalam sejarah Islam. Wahyu pertama yang di turunkan kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira adalah Iqro—bacalah. Bagi Slentheng, Iqro bukan sekadar perintah membaca teks, tetapi perintah membaca kehidupan. Membaca diri, membaca masyarakat, membaca sejarah, dan membaca tanda-tanda kebesaran Allah SWT di seluruh penjuru alam.

Perintah Iqro

Perintah Iqro menandai bahwa peradaban besar di bangun di atas tradisi membaca. Dari perintah itulah lahir generasi-generasi berilmu, ulama, ilmuwan, dan cendekiawan yang menjadikan ilmu sebagai pilar utama kemajuan. Maka, membaca bukan sekadar hobi, melainkan mandat peradaban.

BACA JUGA :  Ahmad Muzani dan Pelajaran dari Bangku Madrasah Ibtidaiyah

Dalam konteks itu, Slentheng melihat Perpustakaan Daerah sebagai institusi yang seharusnya menjadi pengejawantahan nyata dari semangat Iqro. Perpusda bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi ruang di mana perintah membaca itu di hidupkan secara kolektif. Namun ketika Perpusda di biarkan sepi, fasilitasnya kurang memadai, koleksinya tidak di perbarui, ruang bacanya tidak nyaman, dan program literasinya minim, maka semangat Iqro itu seolah kehilangan rumahnya.

Slentheng menghela napas panjang. Ia menyeruput kembali moci-nya yang mulai hangat. Ia merasa, persoalan sepinya Perpusda tidak bisa di lepaskan dari peran Pemerintah Daerah. Pemda memiliki tanggung jawab moral dan kebijakan untuk menjadikan Perpusda sebagai pusat peradaban lokal. Investasi pada perpustakaan bukanlah pengeluaran yang sia-sia, melainkan investasi jangka panjang pada kualitas berpikir dan karakter masyarakat.