Lebih lanjut, Sumarno menegaskan bahwa peristiwa ini menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah. Khususnya terkait aspek keselamatan pendakian di Bukit Mongkrang. Kawasan tersebut berada dalam pengelolaan Pemprov Jateng.
Menurutnya, Bukit Mongkrang memiliki daya tarik yang tinggi, terutama bagi pendaki pemula. Namun juga menyimpan risiko yang perlu di antisipasi dengan sistem pengamanan yang memadai.
“Kami telah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungann Hidup dan Keluhatanan (DLHK). Kejadian ini menjadi evaluasi bersama untuk meningkatkan aspek keselamatan. Mulai dari penataan jalur, petunjuk arah, hingga pengawasan, terutama bagi pendaki pemula,” tegasnya.
Sebagai informasi, Yazid sebelumnya di laporkan hilang setelah melakukan pendakian pada Minggu (18/1). Operasi pencarian SAR di mulai pada Senin (19/1) dan berlangsung selama tujuh hari hingga Minggu (25/1), kemudian di perpanjang hingga Sabtu (31/1). Namun pada periode tersebut korban belum berhasil di temukan. Bahkan, Sekda Jateng tercatat turut terlibat langsung dalam proses pencarian pada 27–28 Januari 2026.
Kepala Kantor Basarnas Surakarta, Kamal Riswandi, menjelaskan bahwa jenazah korban di temukan sekitar pukul 08.54 WIB oleh tim Wanadri yang sedang melakukan flying camp di kawasan tersebut.
“Posisi korban berada di bawah Mongkrang mengikuti aliran sungai. Karena jalur menuju puncak cukup curam, proses evakuasi di lakukan melalui jalur yang lebih landai di wilayah Beruk,” jelas Kamal.
Sebanyak 50 personel SAR gabungan di kerahkan dalam proses evakuasi hingga jenazah berhasil di bawa ke RSUD Karanganyar. Jenazah kemudian di pulangkan ke rumah duka sekitar pukul 20.00 WIB, di salatkan, dan di makamkan pada malam yang sama. (**)


