Sementara itu, Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Batang Suprapto mengakui, serapan tenaga kerja program Daker pada 2025 mencapai 86 persen atau sekitar 2.115 orang dari total 2.531 peserta.
”Untuk yang sudah terserap ada 2.115 orang. Sisanya 416 orang belum terserap karena dua faktor. Pertama, beberapa perusahaan hanya membutuhkan tenaga kerja perempuan. Kedua, ada perusahaan yang masih menyelesaikan pembangunan pabrik sehingga penyerapan tertunda,” ucapnya.
Untuk tahun 2026, Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Batang menargetkan 3.117 peserta program Daker dapat terserap seluruhnya. Dari jumlah tersebut, sekitar 90 persen merupakan lulusan SLTA, dengan kurang lebih 1.000 peserta berjenis kelamin laki-laki. Menurut Suprapto, dominasi tenaga kerja perempuan disebabkan karakteristik industri yang berkembang di Batang, khususnya sektor garmen.
”Banyak perusahaan bergerak di bidang garmen sehingga tenaga kerja perempuan lebih dibutuhkan. Kalau nanti perusahaannya bukan garmen, tentu kebutuhan tenaga kerja laki-laki akan lebih besar,” katanya.
Terkait lulusan sarjana, Suprapto menambahkan bahwa perusahaan tidak hanya mempertimbangkan latar belakang akademik, tetapi juga kompetensi tambahan seperti keahlian K3 serta penguasaan bahasa asing.
”Tahun ini kami akan mencoba membuka pelatihan K3 khusus bagi lulusan sarjana, agar mereka memiliki sertifikasi dan daya saing lebih tinggi,” tuturnya. (**)


