BATANG, smpantura – Sudah hampir sepekan berlalu sejak tanah longsor menerjang Dukuh Rejosari, Desa Pranten, Kecamatan Bawang, pada Jumat 23 Januari 2026. Namun, hingga saat ini, daerah tersebut masih terisolir. Gundukan tanah dan material longsor masih menjadi penghalang warga dari akses utama.
Kepala Bidang Kegawatdaruratan dan Logistik BPBD Batang, M Fajeri, mengungkapkan tim di lapangan sedang berpacu dengan waktu dan alam. Dari dua jalur utama yang sempat lumpuh, baru satu yang berhasil di tangani.
”Ada dua jalur yang tertimbun longsor. Satu jalur sudah bisa di lalui, yakni Rejosari melalui Geodipa. Sementara jalur Rejosari–Pranten sampai sekarang masih tertutup material longsoran,” ujarnya, Kamis (5/2).
Akibat akses utama yang masih membatu, warga yang hendak menuju Rejosari dari arah Bawang harus rela menempuh rute lebih jauh. Mereka terpaksa memutar melalui jalur Geodipa, yang menambah durasi perjalanan sekitar 15 menit dari waktu normal.
”Kalau dari arah Bawang menuju Rejosari, sementara harus lewat jalur Geodipa. Jalur utama masih belum bisa di lewati,” tambahnya.
Di titik longsor, alat berat dari DPUPR Batang terus berusaha untuk membuka akses. Namun, setiap kali cuaca mendung, kecemasan kembali datang. Keamanan petugas menjadi prioritas utama di tengah kondisi tanah yang labil.
”Kendala utama kami hujan yang masih turun dan potensi longsor susulan. Jadi pengerjaan harus ekstra hati-hati demi keselamatan petugas,” papar Fajeri.
Kondisi psikologis warga juga belum pulih sepenuhnya. Hingga kini, Dukuh Rejosari tampak sepi dari aktivitas perempuan dan anak-anak. Mereka lebih memilih bertahan di rumah kerabat demi menghindari risiko yang mengintai di balik bukit. Sebagai solusi jangka panjang, BPBD kini tengah berupaya keras membujuk warga agar mau di relokasi ke hunian sementara (Huntara) yang akan di bangun di atas lahan bengkok milik pemerintah desa.


