TEGAL, smpantura – Alamanda (Allamanda cathartica L.) di kenal luas sebagai tanaman hias tropis yang mencuri perhatian berkat bunganya yang besar dan berwarna kuning cerah. Bentuk bunga menyerupai terompet membuat tanaman ini kerap dijadikan penghias taman, halaman rumah, hingga pagar hidup. Selain tampil mencolok, alamanda juga memiliki pertumbuhan yang relatif cepat.
Mengutip Plantamor.com, alamanda berasal dari kawasan Amerika Tengah dan Amerika Selatan yang beriklim tropis lembap. Seiring waktu, tanaman ini menyebar ke berbagai wilayah tropis di dunia, termasuk Asia Tenggara. Alamanda dapat tumbuh optimal di area terbuka dengan paparan sinar matahari yang cukup.
Secara morfologi, alamanda termasuk tanaman perdu hingga pohon kecil dengan karakter tumbuh menjalar atau merambat. Batangnya lunak namun berkayu sehingga sering membutuhkan penopang. Daunnya berwarna hijau tua mengilap, tersusun berhadapan atau melingkar, dengan bentuk lonjong hingga elips.
Daya tarik utama alamanda terletak pada bunganya yang besar, berbentuk terompet, dan umumnya berwarna kuning cerah. Keindahan tersebut menjadikan alamanda populer sebagai tanaman hias di kawasan tropis.
Dalam klasifikasi ilmiah, alamanda termasuk famili Apocynaceae dengan nama ilmiah Allamanda cathartica L., yang pertama kali diperkenalkan oleh Carolus Linnaeus pada 1771. Tanaman ini juga memiliki sejumlah sinonim ilmiah, di antaranya Allamanda hendersonii dan Echites verticillatus.
Selain sebagai tanaman hias, alamanda dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Daunnya dipercaya digunakan sebagai pencahar, pereda batuk, penurun demam, hingga pengurang mual. Meski demikian, penggunaannya perlu kehati-hatian karena beberapa bagian tanaman ini mengandung zat beracun.
Dengan keindahan bunga dan potensi manfaatnya, alamanda menjadi salah satu tanaman tropis yang bernilai estetika sekaligus fungsional. (**)


