BREBES, smpantura – Pada 18 Januari 1678 Kabupaten Brebes resmi lahir sebagai daerah yang baru. Pembentukan daerah baru ini dari hasil pemecahan Kadipaten Tegal di era Kerajaan Mataram dengan Raja Amangkurat II. Di tahun 2026 ini, Kabupaten Brebes kini genap berusia 348 tahun.
Di lihat dari usianya, daerah yang dikenal dengan julukan Kota Bawang ini tentu menyimpan sejarah panjang. Termasuk, sejarah para pemimpinnya yang luar biasa. Seiring berjalannya waktu, pemimpin Brebes silih berganti. Dari mulai pemimpin yang memiliki keturunan keraton, tokoh agama hingga masyarakat biasa. Bahkan, di era modern Kabupaten Brebes pernah dua kali di pimpin Bupati Perempuan. Termasuk, Bupati yang menjabat saat ini. Yakni, Paramitha Widya Kusuma.
Zaman Perjuangan
Kali pertama berdiri, Kadipaten Brebes (sekarang Kabupaten Brebes), di pimpin Tumenggung Arya Suralaya. Ia merupakan salah satu pejabat di Kerajaan Mataram, yang merupakan adik dari Adipati Tegal Arya Martalaya. Di era Agresi Militer Belanda II tahun 1947, Kabupaten Brebes di pimpin Bupati KH Syatori. Bupati ini dikenal sebagai perjuangan yang gigih dalam melawan penjajah Belandan. Bahkan, KH Syatori rela mati di tangan NICA pada tahun 1947. Bersama sahabatanya Binadji, Bupati Syatori ini melakukan perlawanan terhadap Belanda. Ia menolak bekerja sama dengan pemerintahan bentukan Belanda (Recomba), dan memindahkan pusat pemerintahan ke Desa Wangandalem.
Atas penolakan ini, KH Syatori tertangkap, dan dieksekusi oleh tentara NICA di Desa Krasak. Jenazahnya di temukan di Songgom pada tahun 1947, saat Agresi Militer Pertama Belanda. Perjuangan Bupati KH Syatori ini menjadi simbol perlawanan gigih pahlawan local melawan agresi militer Belanda pasca-Kemerdekaan. Jasa-jasa KH Syatori ini perlu terus dikenang dan diabadikan oleh para genarasi penerus.


