Kegelisahan serupa di rasakan Sukarti, warga lainnya. Dengan mata berkaca-kaca, Sukarti menceritakan kebingungannya menghadapi situasi ini.
Terlebih, setelah Lebaran tahun ini, Sukarti berencana menikahkan anaknya.
“Saya terus terang bingung dan hanya bisa menangis. Habis Lebaran anak saya mau menikah. Kalau sekarang harus pindah, saya tidak tahu harus bagaimana,” ucap Sukarti lirih.
Ketua RT 17, Herlina, menyebutkan bahwa di wilayahnya terdapat lima rumah yang terdampak rencana pengembangan Depo Tegal.
Lina mengaku, tidak mengetahui pasti sejak kapan warga menempati rumah di atas lahan PT KAI tersebut.
“Setahu saya dulu hanya ada tiga rumah. Sekarang yang terdampak ada lima,” ujar Lina.
Lina menambahkan, sebagian besar warga tidak memiliki tempat tinggal alternatif.
Jika pembongkaran di lakukan dalam waktu dekat, warga terpaksa kembali menumpang di rumah orang tua masing-masing.
“Mau tidak mau ya balik ke orang tua, tinggal di rumah tumpeng,” kata Lina.
Menanggapi itu, Manajer Penjagaan Aset PT KAI Daop 4 Semarang, Rifialda mengatakan, bahwa seluruh usulan yang di sampaikan warga akan diteruskan kepada pimpinan untuk dipertimbangkan.
Baik usulan penundaan pembongkaran hingga Lebaran dan tahun ajaran baru, maupun permintaan agar warga di beri kesempatan membongkar rumah secara mandiri agar material bangunan dapat di selamatkan.
“Akan kami sampaikan kepada pimpinan. Harapan kami, rencana ini bisa berjalan lancar dan warga tetap menerima apa yang bisa di berikan,” jelas Rifialda. (**)


