Isra Mikraj, Azan, dan Adnan Menderes: Ketika Negara Pernah Membungkam Suara Langit

Oleh : Rudi Yahya

SETIAP fondasi relasi spiritual manusia dengan Tuhan. Shalat tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu di awali oleh azan—seruan publik yang menandai kebebasan beriman sekaligus keberanian menampilkan keyakinan di ruang bersama.

Sejarah Turki modern pernah mencatat masa ketika suara itu di bungkam oleh negara.

Pada dekade 1930–1940-an, di bawah pemerintahan Partai Republikan Rakyat (CHP), Turki menjalani sekularisme paling ketat dalam sejarahnya. Negara tidak hanya memisahkan agama dari politik, tetapi mengendalikan ekspresi keagamaan secara langsung. Madrasah di tutup, simbol Islam di tekan, dan pada 1932 azan dalam bahasa Arab di larang. Selama hampir 18 tahun, lafaz “Allahu Akbar” di gantikan terjemahan bahasa Turki.

Bagi banyak umat Islam, itu bukan sekadar kebijakan bahasa, melainkan pemutusan hubungan spiritual dengan tradisi Islam yang hidup berabad-abad.

Perubahan datang lewat jalur demokrasi. Pemilu 1950 mengantarkan Adnan Menderes, pemimpin Partai Demokrat, sebagai Perdana Menteri. Ia menjadi figur pertama yang mematahkan dominasi satu partai sejak republik berdiri. Salah satu kebijakan awalnya adalah mengembalikan azan dalam bahasa Arab.

BACA JUGA :  Market Place Bumiayu, Program Terbaru Membantu Pelaku UMKM Lokal

Ketika azan Asar kembali di kumandangkan dengan lafaz aslinya, reaksi rakyat meluap. Tangis, sujud, dan doa mewarnai jalan-jalan kota. Peristiwa itu menegaskan satu hal: agama yang di tekan negara tidak pernah benar-benar mati—ia hanya menunggu ruang untuk bernapas.

Menderes tak berhenti di situ. Ia membuka kembali masjid, menghidupkan sekolah agama, mengizinkan haji, serta melonggarkan pembatasan simbol keislaman. Dalam waktu satu dekade, ia memenangkan pemilu tiga kali berturut-turut. Namun dukungan rakyat justru berbanding terbalik dengan penerimaan elite militer dan kelompok sekuler garis keras.