BATANG, smpantura – Perahu-perahu nelayan yang bersandar di sepanjang alur sungai Sambong diduga menjadi salah satu faktor penghambat kelancaran aliran air di daerah utara Batang. Akibatnya, banjir tidak bisa dielakan ketika hujan deras tanpa henti seperti yang terjadi pada Sabtu sore (10/1).
Situasi semakin pelik saat fenomena rob atau pasang air laut datang bersamaan, mengunci aliran air hingga tak punya jalan keluar selain masuk ke pemukiman.
”Atas kondisi ini, BPBD Kabupaten Batang berencana segera berkoordinasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) untuk melakukan penataan ulang parkir perahu agar banjir bisa dihindari,” ujar Kepala BPBD Batang Wawan Nurdiansyah, Minggu (11/1).
Pasca kejadian ini, BPBD Batang tidak ingin sekadar melakukan penanganan darurat. Evaluasi besar akan dilakukan, termasuk mengkaji keberadaan perahu nelayan di sungai serta rencana normalisasi.
”Kami juga akan melakukan koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk kajian normalisasi,” tuturnya.
Wawan menjelaskan, sekitar pukul 18.00 WIB pada Sabtu sore (10/1), air mulai merangkak naik dengan cepat. Di Kelurahan Klidang Lor dan Karangasem Utara, suasana berubah drastis. Di titik terparah, ketinggian air bahkan menyentuh angka 1,2 meter, membuat aktivitas warga lumpuh seketika.
”Curah hujan cukup deras, ditambah rob dari laut, sehingga air naik dan masuk ke rumah-rumah warga,” ucapnya.
Skala banjir kali ini cukup luas. Di Klidang Lor saja, terdapat sekitar 600 kepala keluarga dengan total kurang lebih 2.400 jiwa yang terdampak. Sementara di Karangasem Utara, ratusan warga di enam wilayah RW juga harus bergelut dengan genangan. Meski air merendam rumah, warga tidak melakukan evakuasi massal.


