Dari Aceh, Indonesia belajar tentang keteguhan sebuah wilayah yang sejak masa kerajaan telah menjadi benteng pertahanan Nusantara. Pada masa revolusi kemerdekaan, Aceh di sebut sebagai daerah yang menyumbang modal. Karena dukungan rakyatnya baik logistik, pesawat maupun dana yang menjadi penopang diplomasi dan perjuangan republik.
“Tanpa keteguhan Aceh, perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak akan sekuat yang kita kenal hari ini,” katanya.
Selanjutnya dari Sumatera Utara, masyarakat mengenang semangat juang rakyat Medan, area dan perlawanan heroik di berbagai kota yang tidak pernah padam.
Sumatera Utara menjadi salah satu pusat perlawanan terhadap agresi Belanda dan menjadi wilayah strategis yang menjaga kesinambungan pemerintah Republik.
“Ketangguhan rakyat Sumatera Utara menjadi bagian dari pondasi berdirinya negara kita,” katanya.
Kemudian dari Sumatera Barat barat, khususnya Bukit Tinggi, lahirlah PDRI. Penyelamat Republik Indonesia dalam masa paling kritis. Ketika ibukota negara di duduki, justru dari Sumatera Barat pemerintahan Republik Indonesia tetap Hidup.
Tanpa keberanian para tim pemimpin dan rakyat di wilayah ini, sejarah Indonesia akan sangat berbeda. Dan peringatan hari bela negara dan tidak akan memiliki makna seperti hari ini.
“Karena itu tanpa Aceh, Sumatera Utara dan tanpa Sumatera Barat, sejarah bela negara tidak akan lengkap. Mereka bukan hanya bagian dari perjalanan masa lalu, tetapi pondasi yang menegaskan bahwa persatuan adalah kekuatan terbesar bangsa ini,” katanya. (**)


