Batang  

Diserang Burung Emprit dan Banjir, Ratusan Hektare Sawah Petani Gagal Panen 

BATANG, smpantura – Ratusan hektare lahan sawah petani di wilayah Ujungnegoro, Depok, hingga Tegalsari, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang saat ini mengalami puso atau gagal panen. Hal ini di sebabkan oleh kombinasi serangan koloni burung emprit dan genangan air banjir yang terjadi di lahan-lahan persawahan.

Tasno, seorang petani Desa Ujungnegoro mengatakan, musim tanam kali ini adalah mimpi buruk. Lahan seluas 10 hektare miliknya terpaksa di nyatakan puso. Harapan untuk panen sirna setelah burung emprit menyerbu bulir-bulir padinya tanpa ampun.

”Segala cara telah di lakukan, mulai dari memasang jaring yang menyelimuti sawah hingga membuat bunyi-bunyian gaduh untuk menakut-nakuti burung emprit. Namun, upaya itu sia-sia. Sudah di jaring dan di takut-takuti dengan bunyi-bunyian, tapi tidak takut burungnya,” ujarnya, Selasa (27/1).

Hal senada di sampaikan Taryadi, Ketua Kelompok Tani Sregep Mantep 3 Desa Tegalsari. Ia mengatakan, keresahan sedang di rasakan para petani. Teknologi konvensional, kata dia, di anggap sudah tidak mumpuni lagi menghadapi serangan yang masif dari burung emprit.

BACA JUGA :  Pelajar Putri Diminta Konsumsi Pil Tambah Darah

”Ora iso mengatasi, di pangani terus (tidak bisa mengatasi, di makan terus-red). Mungkin ada teknologi lain ya untuk bisa mengusir burung,” ungkapnya.

Permasalahan Lain

Selain hama, masalah infrastruktur air menjadi permasalahan petani. Petani harus berhadapan dengan kondisi banjir yang masuk ke area persawahan mereka. Kali Sono, sungai yang membelah perbatasan Ujungnegoro dan Depok, di tuding sebagai penyebab banjir yang kerap merendam sawah dalam waktu lama. Kondisi sungai yang berkelok-kelok tajam membuat aliran air tidak lancar saat debit meningkat. Warga mengibaratkan bentuk sungai tersebut seperti ular yang menghambat laju air menuju hilir.