Banjir Bandang Pemalang Bukan yang Pertama, Sejarah 1886 Jadi Pengingat

FOTO : Dampak banjir bandang di Pulosari Kabupaten Pemalang pada Sabtu 24 Januari 2026 dini hari/Instagram @anom_widiyantoro

PEMALANG, smpantura – Musibah banjir bandang yang terjadi bertepatan dengan Hari Jadi ke-451 Kabupaten Pemalang mengingatkan kembali pada peristiwa serupa yang pernah melanda wilayah ini pada masa kolonial Belanda.

Tanda-tanda bencana sebenarnya sudah muncul sejak Jumat, 16 Januari 2026. Hujan dengan intensitas tinggi memicu genangan di kawasan perkotaan serta banjir di wilayah pesisir, seperti Kecamatan Ampelgading, Comal, dan Ulujami. Luapan Sungai Comal menyebabkan air setinggi pinggang orang dewasa merendam permukiman warga.

Puncaknya terjadi pada Sabtu dini hari, 24 Januari 2026. Banjir bandang menerjang kawasan pegunungan di Kecamatan Pulosari dan Moga. Desa Penakir tercatat sebagai wilayah paling terdampak.

Arus deras yang membawa batu besar dan kayu dari lereng Gunung Slamet mengakibatkan 10 rumah hilang terseret, empat kendaraan hanyut, serta satu warga meninggal dunia.

BACA JUGA :  Dies Natalis 77 tahun, HMI Siap Bersinergi dengan Berbagai Pihak 

Peristiwa ini mengingatkan pada banjir besar yang pernah melanda Pemalang pada Februari 1886. Berdasarkan catatan sejarah, banjir saat itu menggenangi sawah, perkebunan tebu, hingga Jalan Pos, serta merusak sejumlah tanggul sungai.

Bahkan setahun kemudian, banjir kembali terjadi di pesisir Tegal–Pemalang dengan ketinggian air mencapai sekitar empat meter.

Peneliti sejarah Ilham Nur Utomo dalam kajiannya menyebutkan bahwa curah hujan di Pemalang bersifat naik-turun. Namun, menurutnya, banjir tetap berulang karena wilayah ini berada di kawasan rawan luapan sungai.

Ia menuliskan bahwa banjir kerap mengganggu kehidupan warga karena merendam rumah dan lahan pertanian, meski tidak selalu menimbulkan korban jiwa. (**)