Ia menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan solusi sementara agar aktivitas warga tetap dapat berjalan. Salah satunya dengan membangun jembatan bailey sebagai akses alternatif.
“Kami akan bangun jembatan Bailey di sini, karena yang tersedia hanya satu dan kami pilih lokasi ini. Sementara yang di Pancuran 13 kami tutup total. Kami mohon kesabaran para pedagang dan masyarakat agar dapat memahami kondisi ini,” imbuhnya.
Ahmad Kholid juga mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan mengingat kondisi cuaca yang masih belum stabil. Menurutnya, mitigasi risiko harus menjadi perhatian bersama agar tidak terjadi korban jiwa di kemudian hari.
Dari hasil pendataan sementara, banjir bandang yang dipicu hujan ekstrem sejak 22 hingga 24 Januari 2026 menyebabkan sedikitnya tiga jembatan utama putus. Jembatan tersebut merupakan akses vital dari area parkir menuju kawasan pemandian. Termasuk di Curug Jedor dan area wisata Pancuran 13.
Selain itu, satu unit alat berat jenis ekskavator, sejumlah lapak pedagang milik warga, serta pagar pembatas di sepanjang aliran sungai di laporkan hanyut atau rusak berat akibat derasnya arus. Kondisi tersebut mendorong aparat keamanan dan pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah pengamanan guna mencegah risiko lanjutan di kawasan wisata.
Kapolres Tegal AKBP Bayu Prasatyo menegaskan bahwa langkah penutupan Kawasan Pancuran 13 telah di lakukan sejak dini hari sebagai upaya pencegahan.
“Sejak dini hari Pancuran 13 sudah kami tutup setelah jembatan roboh. Kami bersama Forkopimda, BPBD, dan camat terus berkolaborasi untuk memastikan keselamatan masyarakat. Serta menjaga agar aktivitas warga tetap dapat berjalan sebatas kondisi yang memungkinkan,” ujarnya.


