SLAWI, smpantura – Anggota DPRD Kabupaten Tegal, M Khuzaeni menilai banjir akan terus terjadi, karena kawasan hutan di atas Guci belum pulih. Kendati gencar di lakukan penanaman, namun belum berdampak positif bagi kelestarian hutan di lereng Gunung Slamet.
Musibah banjir yang memporak-porandakan wisata Pancuran 13, Pancuran 5 dan tiga jembatan di aliran Sungai Gung itu, butuh penataan ulang kawasan obyek wisata Guci.
“Banjir besar seperti ini mungkin akan terjadi cukup lama, karena penanaman pohon saat ini akan berimbas 10 tahun mendatang,” kata M Khuzaeni yang akrab di sapa Jeni saat di hubungi Minggu (25/1/2026).
Politisi Partai Golkar itu, menilai upaya penanaman pohon yang marak saat ini, tidak langsung berdampak pada banjir banding di Sungai Gung. Pasalnya, pohon yang bisa menahan laju air dan menguatkan tanah, harus pohon besar. Padahal, tiap pohon usia berbeda-beda. Rata-rata pohon yang mampu menahan air dan tanah bisa 5-10 tahun.
“Selama proses ini, bangunan di tepi sungai baik itu penginapan, villa, hotel dan wahana wisata, harus di tertibkan,” ujar Jeni.
Menurutnya, aturan mendirikan bangunan di tepi sungai harus di jalankan. Hal itu di maksudkan agar lebar sungai tetap terjaga dan tidak merusak benteng-benteng sungai. Terutama, di bawah Pancuran 13 di sebelah barat yang terdapat bangunan penginapan. Lokasi itu harus segera di tangani, karena jika kembali terjadi banjir, di khawatirkan akan longsor.
“Di Pancuran 13, di kembalikan alami seperti sebelumnya. Jangan di bangun hingga menjorok ke sungai,” terang Jeni.
Soal pipa-pira yang mengambil air panas di Pancuran 13, Jeni menyarankan agar di tata ulang. Pipa tidak boleh melalui jalur sungai yang membuat sungai semakin sempit. Selain itu, pipa-pipa tersebut juga merusak keindahan Guci.


