Brebes  

Alu-Alu Panjang Pasar Pegeg Penopang Kehidupan

FOTO : Alu-Alu Panjang dari Pasar Pegeg Kalipucang Brebes

BREBES, smpantura — Di tengah hiruk pikuk aktivitas jual beli di Pasar Pegeg Kalipucang, Kabupaten Brebes, jajanan tradisional alu-alu masih bertahan dan menjadi sumber penghidupan bagi sebagian pedagang kecil. Salah satunya adalah Ibu Suswanti, penjual alu-alu dengan ciri khas ukuran panjang dan besar yang berbeda dari alu-alu pada umumnya.

Alu-alu buatan Ibu Suswanti di buat memanjang menyerupai lontong, kemudian di potong menjadi beberapa bagian sebelum di sajikan kepada pembeli. Bentuknya yang unik ini justru menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung pasar yang penasaran dengan jajanan tradisional tersebut.

Ibu Suswanti merupakan warga Desa Penarukan, Kecamatan Adiwerna, yang mulai menekuni usaha berjualan alu-alu sejak tahun 2023. Usaha ini ia jalani sebagai tumpuan utama untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sekaligus membiayai pendidikan anaknya.

“Saya berjualan alu-alu ini untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan membiayai sekolah anak,” ujar Ibu Suswanti saat di temui di Pasar Pegeg Kalipucang.

BACA JUGA :  Kapolsek Bumiayu Inspeksi Keamanan Logistik Pilkada 2024, Pastikan Pemilu Aman

Setiap pagi, Ibu Suswanti membuka lapaknya sejak pukul 05.30 WIB hingga sekitar 09.00 WIB. Ia memilih Pasar Pegeg Kalipucang sebagai lokasi berjualan karena di kenal ramai pengunjung, terutama pada jam-jam pagi, sehingga peluang mendapatkan pembeli dinilai cukup besar.

Selain alu-alu, ia juga menjajakan berbagai kue basah tradisional, seperti klepon dan gemblong ketan. Tidak hanya melayani pembeli pasar, Ibu Suswanti juga menerima pesanan snack box untuk berbagai keperluan acara keluarga maupun kegiatan masyarakat.

Pembeli alu-alu buatannya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari ibu rumah tangga, pedagang, hingga remaja. Meski harus berjualan sejak dini hari dan menghadapi kelelahan, Ibu Suswanti tetap bertahan demi keberlangsungan hidup keluarganya.

Ia berharap, alu-alu panjang buatannya tetap diminati masyarakat dan usahanya dapat terus berjalan lancar. Lebih dari sekadar jajanan pasar, alu-alu ini menjadi penopang kehidupan sekaligus simbol perjuangan seorang ibu di tengah keterbatasan.