Program tersebut kemudian berlanjut dan meluas pada periode 1906–1908, menjangkau sejumlah wilayah lain di Lampung. Dari proses itulah terbentuk komunitas transmigran Jawa yang tidak hanya bertahan. Tetapi tumbuh dan mewariskan nilai budaya, tradisi, serta identitas hingga lintas generasi.
Warkim Prawiroatmojo, salah satu warga Desa Bagelen, menuturkan bahwa nama desa tersebut di ambil dari wilayah asal para leluhur mereka di Jawa Tengah. Sekaligus merujuk pada tokoh yang di kenal sebagai Nyi Bagelen. Sejak generasi awal sesepuh desa, adat istiadat dari tanah asal kakek moyang terus di jaga dan di wariskan hingga kini.
“Mbah saya berasal dari Kedu Selatan, sekarang wilayah Purworejo. Ada yang dari Semawung, Borok, Wonoroto. Dari situlah muncul sebutan Nyai Bagelen atau Nyai Roro Timur. Supaya tetap rukun, warga keturunan Jawa di Sumatera kemudian membentuk paguyuban Pujakesuma,” ujarnya.
Warkim juga mengaku bangga dan bahagia atas kehadiran Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi yang menyempatkan diri berkunjung dan menyapa langsung warga Desa Bagelen. Menurutnya, kunjungan tersebut memiliki makna tersendiri karena tidak semua kepala daerah Jawa Tengah datang langsung ke desa transmigran itu.
Ia menuturkan, sebelumnya pernah ada gubernur Jawa Tengah yang berkunjung ke Lampung, namun agenda kegiatan dilaksanakan di Museum Nasional Ketransmigrasian dan belum menyentuh langsung Desa Bagelen.
Ikatan Sejarah
Warga lainnya, Tito, menilai ikatan sejarah antara Desa Bagelen dan Jawa Tengah masih terasa sangat kuat hingga kini. Ia mengapresiasi kehadiran Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi yang dinilainya sebagai bentuk perhatian terhadap keluarga besar masyarakat Jawa di perantauan.


