Brebes  

Tanah Bergerak di Sirampog Belum Mereda, Warga Pilih Mengungsi ke Tenda Darurat

BREBES, smpantura – Fenomena tanah bergerak di Dukuh Bojongsari, Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, masih terus terjadi.

Kondisi itu tanah memaksa warga mengungsi demi keselamatan.

Mereka meninggalkan rumah dan menempati tenda darurat yang berjarak sekitar 300 meter dari permukiman Bojongsari. Sebagian pengungsi tanah bergerak Sirampog merupakan lansia dan anak-anak.

Kades Sridadi, Sudiryo, mengatakan, retakan tanah di sejumlah titik semakin melebar. Kondisi tersebut membuat banyak rumah warga di nilai tidak lagi aman untuk di huni. Sehingga warga hanya membawa barang-barang penting saat mengungsi.

“Intensitas tanah bergerak terus meningkat. Untuk menghindari risiko yang lebih besar, warga kami minta mengungsi ke tenda darurat,” ujarnya.

Menurut Sudiryo, bantuan logistik Brebes mulai disalurkan kepada para pengungsi. Dinas Sosial Kabupaten Brebes telah mengirimkan bantuan berupa beras, makanan siap saji, serta lauk pauk. Hal tersebut guna memenuhi kebutuhan dasar warga selama masa darurat.

BACA JUGA :  Korsleting Listrik, Rumah dan Dua Sepeda Motor di Sirampog Ludes Terbakar

Bencana tanah bergerak Bojongsari pertama kali terjadi pada 29 Januari 2026. Hingga saat ini, dampaknya terus meluas. Data sementara mencatat sedikitnya 122 rumah mengalami kerusakan berat.

Selain rumah warga, satu masjid, dua mushola, serta bangunan TPQ/PAUD juga terdampak retakan tanah dengan lebar mencapai puluhan sentimeter.

Sudiryo menambahkan, hingga kini sebagian warga masih membongkar rumah secara mandiri untuk menyelamatkan material bangunan yang masih dapat di gunakan.

Dukuh Bojongsari di huni sekitar 146 kepala keluarga atau 439 jiwa. Seluruh warga tersebut merupakan kelompok relokasi dari Dukuh Lebakgoak yang terdampak bencana tanah bergerak pada 2013 silam.