smpantura – Sore itu, Slentheng duduk di sebuah sudut alun-alun, menyesap moci sambil membaca koran lama. Di depannya, sepiring gorengan berisi tahu aci dan randa kemul masih mengepulkan uap tipisSuasana sore terasa lengang, angin berembus pelan, dan suara kendaraan lalu-lalang menjadi latar bagi renungannya.
Di seberang tempat ia duduk, berdiri sebuah gedung Perpustakaan Daerah. Bangunannya tampak kokoh, papan namanya jelas, namun suasananya terasa lengang. Hampir tak terlihat orang keluar masuk. Terasa suwung.
Slentheng memandangi gedung itu cukup lama. Dalam benaknya, ia membandingkan keadaan Perpusda dengan gedung-gedung lain di sekitarnya yang justru ramai oleh aktivitas. Orang-orang berbondong-bondong menuju pusat perbelanjaan, kafe, dan ruang hiburan. Sementara gedung yang seharusnya menjadi rumah ilmu justru sepi, seolah di tinggalkan oleh zaman.
Sambil meraih sepotong tahu aci, Slentheng tidak serta-merta menyalahkan masyarakat. Ia justru mulai bertanya, sejauh mana Perpustakaan Daerah benar-benar di hadirkan sebagai ruang publik yang hidup, nyaman, dan relevan? Apakah Perpusda telah di posisikan sebagai pusat aktivitas literasi, atau sekadar menjadi bangunan administratif yang ada karena kewajiban?
Dalam renungannya, Slentheng teringat pada simbol agung dalam pewayangan: Serat Jamus Kalimasada. Pusaka milik Prabu Puntadewa itu bukan sekadar benda bertuah, melainkan lambang ilmu, kebenaran, dan kebijaksanaan. Jamus Kalimasada bukanlah senjata untuk melukai, melainkan pusaka untuk menuntun. Ia adalah simbol bahwa kekuatan sejati terletak pada pengetahuan, kejernihan nurani, dan keberpihakan pada kebenaran.


